Pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab, hampir setiap malam beliau melakukan perjalanan secara diam-diam keluar-masuk kampung hanya untuk mengetahui kehidupan rakyatnya. Beliau khawatir ada hak-hak mereka yang belum dipenuhi oleh aparat pemerintahannya.
Malam itu, khalifah Umar bersama pembantunya melakukan perjalanan ke suatu daerah terpencil. Kemudian terdengarlah suara tangisan gadis kecil dari sebuah rumah yang sudah tidak layak huni. Tangisan gadis itu terus menerus terdengar. Khalifah Umar dan pembantunya pun bergegas mendekati rumah tersebut.
Setelah mendekat, terlihat oleh Umar seorang ibu yang sedang memasak di atas tungku api. Ibu itu terus mengaduk-aduk panci tersebut dengan sendok kayu yang panjang. Asap dari panci itu terus mengepul.
Saat itu, engkau mengimami shalat bersama sahabat-sahabat terdekatmu. Namun, di setiap gerakan yang kau lakukan terkesan sukar dan kaku. Terdengar bebunyian seolah-olah persendianmu saling gesek satu sama lain.
Wahai lelaki yang lembut hatinya, apa yang terjadi denganmu ?
Seusai shalat, ‘Umar yang begitu khawatir akan keadaanmu mendatangimu guna menanyakan keadaan engkau. Engkau menyambutnya dengan senyum.
“Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah engkau menanggung penderitaan yang berat. Sakitkah engkau, ya Rasul?”
Di sudut kota Madinah, ada seorang pengemis tua. Tubuhnya renta , matanya buta, dan dia adalah seorang Yahudi. Setiap hari ia duduk dan menunggu seseorang menghampirinya untuk memberi atau melemparkan sejumlah receh untuknya.
Hari ini dia menunggu seseorang yang setiap pagi selalu jadi yang pertama yang menghampirinya. Pengemis itu yakin, hari ini tak akan berubah. Lelaki itu akan datang dan menyuapkan makanan lunak untuknya.
Tak lama, terdengar suara langkah yang tidak asing lagi bagi pengemis itu.Seseorang itu datang.Pengemis itu lantas siap untuk mengucapkan kata yang ia ucapkan setiap kali ada orang yang menghampirinya..
“Janganlah engkau mendekati Muhammad! Karena dia orang gila, pembohong,dan tukang sihir! Jika engkau mendekatinya, engkau akan dipengaruhinya.”
Kami adalah umat nabiMu Muhammad saw. yang hidup di akhir zaman yang penuh beragam fitnah, hantarkan kami kepadanya.. Kami tak mampu beribadah seperti mereka, namun kami punya cinta.. cinta kepadanya.. manusia paling terkasih di sisiMu.. dan.. cinta inilah satu-satunya bekal yang akan kami bawa saat menghadapMu nanti..
“Di hari kiamat nanti, ketika seorang hamba telah ditentukan balasan kebaikan dan balasan keburukan yang pernah ia lakukan ketika di dunia, Allah ‘Azza wa Jalla masih saja mendatangkan balasan kebaikan amalan yang pernah dibuatnya ketika dia hidup di dunia..
Hamba itu merasa tidak pernah melakukan dan berkata,
“Ya Allah, balasan apakah yang Engkau berikan kepadaku ini? Semua amalanku ketika di dunia telah Engkau balas dengan sempurna.Aku merasa tidak pernah melakukannya ketika aku hidup di dunia.”
Pada suatu kesempatan, Rasulullah mengabarkan pada sahabat-sahabatnya..
“Jibril datang kepadaku dan berkata..
‘Wahai Muhammad,hiduplah semaumu,tapi sungguh engkau akan mati,cintailah seseorang sesukamu,tapi sungguh engkau akan berpisah darinya,dan berbuatlah sesukamu, tapi sungguh engkau akan diminta pertanggungjawabannya kelak.’
Ketahuilah bahwa kemuliaan seseorang terletak pada solat malamnya dan kewibawaannya terletak pada sikap merasa cukup dari bantuan orang lain”