Saturday, 9 July 2011

“Apakah kau sedang memasak batu ?!”

Pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab, hampir setiap malam beliau melakukan perjalanan secara diam-diam keluar-masuk kampung hanya untuk mengetahui kehidupan rakyatnya. Beliau khawatir ada hak-hak mereka yang belum dipenuhi oleh aparat pemerintahannya.

Malam itu, khalifah Umar bersama pembantunya melakukan perjalanan ke suatu daerah terpencil. Kemudian terdengarlah suara tangisan gadis kecil dari sebuah rumah yang sudah tidak layak huni. Tangisan gadis itu terus menerus terdengar. Khalifah Umar dan pembantunya pun bergegas mendekati rumah tersebut.

Setelah mendekat, terlihat oleh Umar seorang ibu yang sedang memasak di atas tungku api. Ibu itu terus mengaduk-aduk panci tersebut dengan sendok kayu yang panjang. Asap dari panci itu terus mengepul.


Assalammu’alaikum,” sapa khalifah Umar, beliau meminta izin untuk masuk. Si Ibu yang tidak tahu siapa tamunya itu kemudian mengizinkannya masuk.

“Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu?” Tanya Umar,

Si ibu menjawab, “Anakku,”

“Apakkah ia sakit?”

“Tidak, tapi ia kelaparan,” jawab si Ibu.

Khalifah ingin sekali melihat apa yang sedang dimasak oleh si Ibu. Karena dari tadi si Ibu tersebut hanya mengaduk-aduk namun masakannya tidak juga matang. Akhirnya, Umar memutuskan untuk bertanya..

“Wahai Ibu, apakah yang sedang kau masak ?”

“Kau lihat saja sendiri!” jawab si Ibu,

Khalifah Umar dan pembantunya pun mendekat untuk melihat apa yang dimasak si Ibu. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat apa yang ada di dalam panci, untuk memastikan Umar berteriak “Apakah kau sedang memasak batu ?!”, perempuan itu hanya menganggukan kepala.

Dengan suara lirih, perempuan itu menjawab “Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Aku seorang janda. Sejak pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa.Sementara aku berusaha untuk bekerja tetapi karena kewajiban menjaga anakku, hal itu tidak dapat kulakukan. Sampai waktu magrib tiba, kami belum juga mendapatkan makanan apa pun. Anakku terus mendesakku. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukannya ke dalam panci. Kemudian , batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Ia tetap saja menangis. Sungguh Khalifah Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu memenuhi kebutuhan rakyatnya.”

Mendengar pernyataan si Ibu, pembantu Khalifah ingin sekali menegurnya, mengatakan bahwa orang yang dari tadi berbicara dengannya adalah Khalifah Umar. Namun, Khalifah Umar dengan cepat mencegahnya. Dengan berlinang air mata, Khalifah Umar memohon pamit kepada si Ibu kemudian mengajak pembantunya bergegas pulang ke Madinah. Khalifah Umar langsung bergegas menuju gudang baitul mal mengambil sekarung gandum dan memikulnya di punggungnya, kemudian kembali ke rumah perempuan tadi.

Di tengah perjalanan,

“Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku saja yang mengangkut karung gandum itu”, kata sang pembantu,

Dengan berlinang air mata, Khalifah Umar berkata “Rasulullah pernah berkata, jika ada seorang pemimpin yang membiarkan  rakyatnya mati kelaparan tanpa bantuan apa pun, Allah mengharamkan surga untuknya.”

Kemudian beliau melanjutkan “Biarlah beban berat ini yang akan membebaskanku dari siksaan api neraka kelak.”

Dalam gelapnya malam, Khalifah Umar berjuang memikul karung gandum itu hingga akhirnya ia sampai di rumah si ibu. Si ibu kaget melihat Khalifah Umar, dia bertanya “Siapakah anda? Bukankah Anda yang datang tadi?”, khalifah Umar tersenyum dan menjawab “Benar, saya adalah seorang hamba Allah yang diamanatkan untuk mengurus seluruh keperluan rakyat saya. Maafkan saya telah mengabaikan Anda.”

Sungguh pemimpin yang bertanggung jawab :) kami membutuhkan pemimpin seperti dirimu wahai Khalifah Umar bin Khattab..

No comments:

Post a Comment