Saat itu, engkau mengimami shalat bersama sahabat-sahabat terdekatmu. Namun, di setiap gerakan yang kau lakukan terkesan sukar dan kaku. Terdengar bebunyian seolah-olah persendianmu saling gesek satu sama lain.
Wahai lelaki yang lembut hatinya, apa yang terjadi denganmu ?
Seusai shalat, ‘Umar yang begitu khawatir akan keadaanmu mendatangimu guna menanyakan keadaan engkau. Engkau menyambutnya dengan senyum.
“Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah engkau menanggung penderitaan yang berat. Sakitkah engkau, ya Rasul?”
Engkau menggeleng sembari tersenyum, “Tidak, wahai ‘Umar. Alhamdulillah, aku sehat.”
Ekspresi ‘Umar memperlihatkan rasa penuh kasih sayang dan khawatir. “Mengapa setiap kali engkau menggerakan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi di tubuhmu bergesekan? Kami yakin engkau sedang sakit.”
Engkau tersenyum, lantas engkau berdiri, mengangkat jubahmu, hingga bagian perutmu terlihat jelas. ‘Umar dan setiap orang yang ada di masjid itu terpana. Perutmu begitu kempis, kemudian dililit oleh kain yang membuntal, berisi kerikil-kerikil. Dengan kerikil-kerikil itu engkau mengganjal laparmu. Kerikil-kerikil yang menimbulkan suara berisik ketika engkau mengimami shalat.
“Ya Rasul, apakah jika engkau mengatakan sedang lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan menyediakannya untuk engkau?” suara ‘Umar bergetar oleh rasa penyesalan.
Engkau menutup lagi perutmu dengan jubah yang kau kenakan. Engkau lantas menatap ‘Umar dengan pancaran cinta yang utuh, “Tidak, ‘Umar. Aku tahu, apa pun akan kalian korbankan demi aku. Akan tetapi, apa yang harus aku katakan di hadapan Allah nanti jika sebagai pemimpin aku menjadi beban bagi umatku?”
Wahai lelaki yang dicintai penghuni langit dan bumi, begitu bertanggung jawab engkau akan kepemimpinanmu.
Engkau mengedarkan pandanganmu ke sahabat-sahabatmu yang lain, “Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah dari Allah untukku agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia, terlebih di akhirat.”
Duhai Rasulullah, kisah ini hanya sepenggal kisah dari perjalanan hidupmu yang mampu membuatku tercengang dan terharu..
Duhai kekasih Allah, kisah ini membuat hatiku bergetar dan semakin merindukanmu..
Duhai utusan Allah, kisah ini bagaikan cahaya yang mampu menembus zaman,ruang,dan waktu..
Duhai pemimpinku, kisah ini membawaku terhanyut dalam kerinduan..Rindu akan kepemimpinanmu..Rindu akan kesederhanaanmu..Rindu akan cinta dan kasih sayangmu..
ya Rasulullah.. aku adalah pengagummu..
semoga rahmat tercurah, senantiasa untukmu..muhammadku..
Allahumma Solli Ala Muhammad..
Semoga selalu terdengar hingga akhir masa..
amin..
(kisah ini saya ceritakan kembali dari buku biografi MUHAMMAD SAW)
Wahai lelaki yang lembut hatinya, apa yang terjadi denganmu ?
Seusai shalat, ‘Umar yang begitu khawatir akan keadaanmu mendatangimu guna menanyakan keadaan engkau. Engkau menyambutnya dengan senyum.
“Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah engkau menanggung penderitaan yang berat. Sakitkah engkau, ya Rasul?”
Engkau menggeleng sembari tersenyum, “Tidak, wahai ‘Umar. Alhamdulillah, aku sehat.”
Ekspresi ‘Umar memperlihatkan rasa penuh kasih sayang dan khawatir. “Mengapa setiap kali engkau menggerakan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi di tubuhmu bergesekan? Kami yakin engkau sedang sakit.”
Engkau tersenyum, lantas engkau berdiri, mengangkat jubahmu, hingga bagian perutmu terlihat jelas. ‘Umar dan setiap orang yang ada di masjid itu terpana. Perutmu begitu kempis, kemudian dililit oleh kain yang membuntal, berisi kerikil-kerikil. Dengan kerikil-kerikil itu engkau mengganjal laparmu. Kerikil-kerikil yang menimbulkan suara berisik ketika engkau mengimami shalat.
“Ya Rasul, apakah jika engkau mengatakan sedang lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan menyediakannya untuk engkau?” suara ‘Umar bergetar oleh rasa penyesalan.
Engkau menutup lagi perutmu dengan jubah yang kau kenakan. Engkau lantas menatap ‘Umar dengan pancaran cinta yang utuh, “Tidak, ‘Umar. Aku tahu, apa pun akan kalian korbankan demi aku. Akan tetapi, apa yang harus aku katakan di hadapan Allah nanti jika sebagai pemimpin aku menjadi beban bagi umatku?”
Wahai lelaki yang dicintai penghuni langit dan bumi, begitu bertanggung jawab engkau akan kepemimpinanmu.
Engkau mengedarkan pandanganmu ke sahabat-sahabatmu yang lain, “Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah dari Allah untukku agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia, terlebih di akhirat.”
Duhai Rasulullah, kisah ini hanya sepenggal kisah dari perjalanan hidupmu yang mampu membuatku tercengang dan terharu..
Duhai kekasih Allah, kisah ini membuat hatiku bergetar dan semakin merindukanmu..
Duhai utusan Allah, kisah ini bagaikan cahaya yang mampu menembus zaman,ruang,dan waktu..
Duhai pemimpinku, kisah ini membawaku terhanyut dalam kerinduan..Rindu akan kepemimpinanmu..Rindu akan kesederhanaanmu..Rindu akan cinta dan kasih sayangmu..
ya Rasulullah.. aku adalah pengagummu..
semoga rahmat tercurah, senantiasa untukmu..muhammadku..
Allahumma Solli Ala Muhammad..
Semoga selalu terdengar hingga akhir masa..
amin..
(kisah ini saya ceritakan kembali dari buku biografi MUHAMMAD SAW)
No comments:
Post a Comment